Tuntang – Dalam upaya meningkatkan pelayanan, sosialisasi, dan edukasi terkait Program Kesehatan Jiwa di lingkungan sekolah, UPTD Puskesmas Tuntang mengadakan kegiatan Fasilitasi First Aider P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 11 Juni 2026 ini bertempat di SMP Negeri 1 Tuntang.

Acara ini terselenggara berkat kerja sama yang solid antara pihak UPTD Puskesmas Tuntang dengan Tim Pendamping Kesiswaan serta Unit Kesehatan Sekolah (UKS) SMP Negeri 1 Tuntang. Sebanyak 70 murid perwakilan sekolah antusias mengikuti jalannya pelatihan dari awal hingga selesai.

Pihak UPTD Puskesmas Tuntang, menyampaikan bahwa luka tidak hanya terjadi pada fisik, melainkan juga pada psikologis atau mental, terutama di usia remaja yang penuh dengan dinamika perkembangan diri. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memiliki pengetahuan dasar dalam memberikan pertolongan pertama ketika melihat rekan sejawatnya mengalami tekanan emosional atau masalah psikologis.

Pihak sekolah, melalui Pendamping Kesiswaan dan Pembina UKS, menyambut baik program ini. Diharapkan setelah pelatihan ini, para peserta dapat menjadi agen perubahan (agent of change) di lingkungan kelas masing-masing, menciptakan suasana sekolah yang aman, sehat, dan peduli terhadap kesehatan mental sesama teman.

Manfaat Kegiatan bagi Siswa

Melalui kegiatan Fasilitasi First Aider P3LP ini, berikut adalah manfaat singkat yang diperoleh oleh anak-anak (peserta):

  • Paham Kesehatan Mental: Anak-anak menjadi lebih peka dan mengerti tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa sejak dini.
  • Mampu Jadi Pendengar yang Baik: Siswa dibekali keterampilan untuk mengenali tanda-tanda stres atau luka psikologis pada temannya tanpa memberikan penghakiman (judgment).
  • Siap Memberikan Pertolongan Pertama: Anak-anak tahu langkah-langkah dasar apa yang harus dilakukan untuk menenangkan teman yang sedang cemas, sedih, atau stres sebelum diarahkan ke pihak profesional (guru BK, UKS, atau Puskesmas).

Meningkatkan Empati dan Solidaritas: Melatih rasa kepedulian antar sesama siswa sehingga tercipta lingkungan sekolah yang saling mendukung (supportive environment) dan bebas dari perundungan (bullying).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *